Film tentang perang pedang


Movies/Kekaisaran Romawi, Pada waktu itu, Cave hanya pernah menulis satu skenario yang dibuat menjadi film, Ghosts of the Civil Dead arahan John Hillcoat, dan ia sedang berkonsentrasi pada karier musiknya. Tapi ia tak bisa menolak ketika Crowe menawarinya pekerjaan di Gladiator 2, meski dengan satu kesangsian.
“Bukannya kau mati di Gladiator 1?” Cave bertanya. “Ya, kau bereskan lah,” jawab Crowe.
Dan itulah yang ia lakukan. Skenario Gladiator 2 yang ditulis Cave dibuka dengan adegan Maximus terbangun di akhirat. Sontak ia kecewa karena akhirat ternyata bukanlah Elysium yang bermandikan sinar mentari, seperti yang ia impikan di Gladiator, melainkan alam tanpa hujan di mana para pengungsi yang malang meringkuk berdempetan di tepi suatu lautan hitam.
Dengan bantuan seorang arwah pemandu, Mordecai, Maximus pergi ke kuil yang hancur tempat ia bertemu dengan Jupiter, Mars, dan lima dewa Romawi lainnya yang kini sakit-sakitan dan lemah. Jupiter menjelaskan bahwa salah satu dari jajaran dewa, Hephaestus, telah mengkhianati mereka, dan sekarang mendakwahkan ajaran dewa lain yang lebih kuat dari mereka semua.
Sedikit koreksi, Hephaestus adalah dewa Yunani, bukan dewa Romawi, jadi Cave harusnya menamainya Vulcan. Tapi skenario itu mengompensasi kesilapan ini dengan alur cerita yang asyik.
Jupiter menawarkan Maximus satu kesepakatan: jika ia membunuh Hephaestus, maka ia akan dipersatukan kembali dengan istri dan putranya di ladang gandum keemasan Elysium.
Ini mungkin lebih kedengaran seperti premis film Terry Gilliam atau novel grafis Neil Gaiman daripada sekuel film blockbuster, tetapi petualangan Orphean ala Cave ini agak masuk akal.
Sepanjang cerita Gladiator, Maximus ngidam untuk melihat keluarganya lagi, jadi ada logika unik dalam sebuah plot yang membuat kerinduan itu tetap hidup, bahkan ketika orang yang merasakan kerinduan itu tidak lagi. Setelah Anda menyesuaikan ekspektasi Anda, Anda dapat menikmati Gladiator 2 sebagai suatu film petualangan supernatural.